Kami Anak Anak PII:

Pelajar Islam Indonesia. Berjiwa Kepemimpinan, Berfikir Kritis, Cerdas, Cendikia,Dan Militan

Tampilkan postingan dengan label Isu Kepelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isu Kepelajaran. Tampilkan semua postingan

29 Mar 2013

Kurikulum 2013, Nasib Ribuan Guru Bersertifikasi Di Ujung Tanduk?


Ilustrasi guru mengajar di daerah terpencil, doc kompas.com
kurikulum baru
           Kurikulum 2013 akan diberlakukan pada tahun ajaran baru mulai bulan Juli 2013. Banyak guru yang mengkhawatirkan pemberlakuan kurikulum ini. Kenapa para guru menjadi kebingungan dengan pemberlakuan kurikulum 2013 ini? Akan kiata ulas pada tulisan di blog ini.
Sebelum kurikulum 2013, diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini untuk SD ada 10mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Matematika, Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan (PJOK), Kesenian, Mulok (ada satu), dan Bahasa Inggris. Sedangkan untuk SMP ada 12 mata pelajaran seperti pada SD namun ditambah mata pelajaran Mulok (ada dua) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Mata pelajaran SD pada kurikulum 2013 menjadi 6 mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, matematika, PPKn, PJOK, dan Seni Budaya. Bahasa Inggris di SD dapat dijadikan sebagai ekstrakurikuler. Untuk mata pelajaran di SMP yang diajarkan adalah Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn), Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya, Muatan Lokal (Mulok), Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), dan Prakarya.

Pada kurikulum 2013 beberapa mata pelajaran di SD dan SMP dihapus. Mata pelajaran yang dihapus di SD adalah IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan Mulok. Sedangkan mata pelajaran di SMP yang dihapus adalah TIK. Mata pelajaran IPA dan IPS di SD diintegrasikan ke mata pelajaran lain. Pengintegrasian IPA dan IPS ini dapat ke mata pelajaran misal bahasa Indonesia, PJOK, PPKn, dan mata pelajaran lain sesuai dengan materi yang dibahas. Sedangkan TIK tidak lagi diajarkan di SMP sebagai mata pelajaran dengan alasan bahwa TIK adalah teknologi sebagai sarana untuk belajar pada mata pelajaran yang lain.
Meskipun berkurang mata pelajarannya, namun jumlah jam di SD bertambah. Untuk SD kelas 1 dari 26 jam menjadi 30 jam per minggu. Untuk kelas 2 SD dari 27 jam menjadi 32 jam per minggu. Untuk kelas 3 SD dari 28 jam menjadi 34 jam per minggu. Sedangkan untuk kelas 4, 5, dan 6 dari 32 jam menjadi 36 jam per minggu. Durasi per jam pelajaran adalah 35 menit.
Banyak ribuan guru IPA, IPS, dan TIK di SD dan SMP bingung dan khawatir dengan pemberlakuan kurikulum 2013 ini. Lalu dikemanakan guru-guru tadi? Apa lagi jika mereka sudah bersertifikasi. Seorang guru yang sudah bersertifikasi harus mengajar setidaknya 24 jam tegak pada bidangnya atau boleh mengajar mata pelajar yang serumpun dengan aturan tertentu.Guru bisa mengajar tidak 24 jam tegak namun memiliki tugas lain yang diakui sebagai jam beban kerja sesuai dengan atruran tertentu.

Sebelum pemberlakuan kurikulum 2013 saja banyak guru bersertifikasi yang kekurangan jam pada satuan kerjanya. Mereka harus bersaing dengan guru lain untuk mencari kekurangan jam sehingga menjadi 24 jam. Selain harus mencari ke sekolah lain, beberapa sekolah mempunyai trik lain misal yang semula dalam satu kelas jumlah siswanya empat puluhan kemudian disebarkan sehingga dalam satu kelas hanya tiga puluhan siswa. Misal semula dalam satu tingkatan ada 5 kelas menjadi 6 kelas. Ini untuk mengakali supaya guru-guru yang bersertifikasi bisa mengantongi 24 jam dalam seminggu.
Jika pada kurikulum 2013 mata pelajaran IPA dan IPS di SD dihapus dan diintegrasikan ke pelajaran lain berarti guru yang mengajar IPA dan IPS harus ke mana? Apa lagi jika guru-guru tersebut sudah bersertifikasi. Di SD selain guru kelas, beberapa SD juga sudah ada guru mata pelajaran IPA dan IPS yang mengajar di kelas 4, 5, dan 6.
Untuk guru TIK di SMP yang sudah bersertifikasi juga dikemanakan? Ini yang membuat bingung para guru. Jika guru-guru TIK tersebut di sekolah negeri dan sudah PNS mungkin tidak begitu bingung, karena masih ada gaji yang mereka terima meskipun tunjangan sertifikasi tidak dapat. Namun jika guru-guru tersebut di sekolah swasta, apakah harus dipecat? Bagaimana juga dengan nasib guru honor yang mengajar mata pelajaran tersebut? Mereka juga mempunyai keluarga, mereka harus menghidupi istri/suami dan anak-anaknya.
Kebingungan guru-guru bersertifikasi bertambah mana kala beberapa jam mengajar pada mata pelajaran tertentu dikurangi. Misal mata pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia yang semula 6 jam menjadi 5 jam. Mata pelajaran IPS yang semula 6 jam menjadi 4 jam.
Selain membuat bingung dan pusing pada guru TIK, ternyata jam mengajar pada SMP ada yang ditambah. Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan PKn dari semula 2 jam menjadi 3 jam per minggu. Mata pelajaran Penjaskes dan Seni Budaya dari semula 2 menjadi 3 jam per minggu. Total ada 38 jam pelajaran per minggu di SMP. Durasi per jam untuk SMP 40 menit.

 Apapun kebijakan pemerintah dalam pendidikan seharusnya tidak merugikan murid dan guru. Bagaimanapun guru adalah pahlawan yang sudah mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa ini. Tanpa adanya guru mustahil bangsa ini bisa maju. Di tangan gurulah para pemimpin bangsa ini dididik. Seharusnya ada solusi yang terbaik bagi guru-guru yang mata pelajarannya dihapus dan jamnya dikurangi. Jangan sampai pemerintah membuat kebijakan “lempar batu sembunyi tangan”.

Kurikulum 2013 Masih Timbulkan Pro Dan Kontra

           Pusat Penelitian dan Pengembangan Kurikulum dan Perbukuan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan gelar uji publik kurikulum 2013 di Aula SMKN 3 Pekanbaru, Jumat (21/12). Sebagaimana di daerah lain, uji publik kali ini juga diwarnai pro dan kontra atas kebijakan pemerintah tersebut.
kurikulum Baru 
                Pemateri, Lambas menjelaskan, dari tes internasional yang dilakukan, sistem pendidikan di Indonesia termasuk ketinggalan. Bahkan kalah dibanding Taiwan, Korea, Singapura, Malaysia dan Thailand. Menurutnya, kurikulum Indonesia saat ini lebih banyak pada hafalan. Hampir dari semua siswa hanya menguasai pelajaran sampa level 3 saja. Sementara negara lain banyak yang sampai level 4,5 bahkan 6.

Pemateri juga memaparkan sejumlah permasalahan pada kurikulum 2006. Dimana, konten kurikulum tersebut dianggap terlalu padat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran. Lalu banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.

Kurikulum 2006 ini juga dianggap belum sepenuhnya bebasis kompetensi sesuai tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan dan pengetahuan.

Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan, seperti, pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan belum terakomodasi di dalam kurikulum 2006. Kurikulum itu juga dinilai belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional maupun global.

Ditambahkan dia, standar proses pembelajaran pada kurikulum 2006 belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci. Sehingga membuka peluang, penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.

Di abad 21 ini, telah terjadi pergeseran paradigma belajar. Cirinya, informasi tersedia dimana saja, kapan saja. Model pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.

Komputasi lebih cepat memakai mesin. Dimana pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalaah (menjawab). Otomasi menjangkau segala pekerjaan rutin yaitu pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis. Karena itu perlu mempersiapkan proses penilaian yang tidak hanya tes saja tetapi dilengkapi dengan penilaian lain termasuk portofolio.

Dijelaskan dia, perlu merumuskan kurikulum yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar dan mencoba (observation based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Disamping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaring melalui collaborative learning.

Sementara itu, peserta uji publik, Naguib Nasution SPd mengkritisi langkah pemerintah yang ingin membuat kurikulum 2013. Menurut dia, ada beberapa masalah mendasar yang membuatnya menolak pemberlakuan kurikulum tersebut.

Menurut dia, semangat mengubah kurikulum itu bertentangan dengan upaya memperkuat pendidikan karakter. Dia menilai, tim penyusun kurikulum justru membuat hal yang tak baik. "Buktinya alasan yang dominan mereka mengubah itu karena kurikulum 2006 dianggap salah. Apakah pendapat ini sudah diuji secara akademik bahwa kurikulum 2006 itu salah?

Dijelaskan Naguib, kurikulum 2006 baru berjalan enam tahun dan tentu hasilnya baru dilihat 10 hingga 15 tahun kedepan. Karena itulah dia menganggap tak ada dasar yang kuat menyatakan kurikulum tersebut tak berhasil.

Gagasan menambah jam pelajaran juga disorotnya. Naguib mempertanyakan ada atau tidaknya data tentang jumlah sekolah yang memberlakukan double shift. Menurut dia, sekolah yang menerapkan sistem ini masih banyak di Indonesia. Termasuk di Pekanbaru. Untuk kondisi normal saja, siswa bisa pulang pada jam 6 sore.  "Kalau jam belajar ditambah empat jam lagi berarti siswa bisa sampai malam ada di sekolah," ujarnya.

Kalau sarana yang sudah terpenuhi menjadi alasan, Naguib kembali  mempertanyakan keabsahan datanya. Meski tim perumus membuat berdasarkan data, Naguib yakin data yang mereka miliki salah. Buktinya, hampir 80 persen sekolah di kota menerapkan pembelajaran double shift untuk mengatasi keterbatasan sarana pendidikan.

Lebih lanjut, ia mengkritisi sistem tematik integratif yang ditawarkan tim. Naguib kembali mempertanyakan apakah tim mempertimbangkan kompetensi guru saat ini. Karena diakui atau tidak, masih ada guru yang susah meski mengajarkan mata pelajaran mandiri. Apalagi menggabungkan antar mata pelajaran.

"Dari segi kompetensi, guru juga masih banyak yang rendah. Bukti empirisnya yaitu hasil Uji Kompetensi Guru yang dilakukan baru-baru ini. Hasilnya jauh dari memuaskan.  Padahal yang ikut adalah guru senior dan telah tersertifikasi," ungkapnya.

Jika ingin menerapkan kurikulum baru ini, Naguib menilai guru-guru harus dikuliahkan lagi. Tujuannya untuk memperbaiki kompetensi profesionalnya. Terutama untuk semua mata pelajaran yang kelak diintegrasikan.

Terakhir, Naguib menyorot tentang buku. Dia berkaca pada buku BSE yang merupakan program pemerintah. Menurutnya buku itu jauh lebih rendah kualitasnya dengan buku yang diterbitkan penerbit swasta. Soal ujian nasional pun cenderung tak bersumber dari buku BSE. "Kalau dengan perubahan kurikulum ini harus mengganti buku dengan waktu singkat, apakah menjamin buku itu sesuai dengan harapan," tegas dia.

Menurut Kabid TK dan SD di Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru ini,  kurikulum 2006 masih relevan. Hanya saja kekurangannya ada beberapa mata pelajaran yang dianggap terlalu padat. Untuk mengatasinya, yang diperlukan adalah rasionalisasi saja. Tak perlu mengubah kurikulum. Khususnya pada materi pelajaran yang padat.

Lalu, Hasan Basri dari Dewan Pendidikan Kota Pekanbaru menilai, kurikulum 2013 hanya memuat semacam konstruksi dari kurikulum. Tidak menyangkut silabus dan lainnya. Karena kurikulum ini akan diterapkan pada Juli 2013, ada kekuatiran pelaksanaannya terlalu digesa. Sehingga hasilnya tak sesuai sasaran.

Untuk itu, ia menilai orang terdepan yang menyelenggarakan pendidikan harus mendapat informasi yang cukup dan jelas. Contoh kepada guru, kepala sekolah dan pengambiil kebijakan. "Apakah kurikulum ini ada keterkaitan dengan sistem pembelajaran, kelulusan dan sebagainya, semestinya ada petunjuk teknis tentang itu," ujar dia.

Khaidir Akmalmas dari Dewan Pendidikan Pekanbaru menjelaskan, impelementasi kurikulum tentunya akan diikuti dengan penyusunan buku baru. Baik buku pelajaran siswa maupun panduan guru. "Buku-buku itu siapa yang mempersiapkan? karena tidak sedikit buku baru yang akan terbit. Mungkinkah ini titipan penerbit," ujar Khaidir.

Sementara itu, Hellis dari Disdik Provinsi Riau berharap jika kurikulum 2013 diterapkan, peserta pelatihan yang akan dilakukan kementerian hendaknya benar-benar diajarkan tentang mata pelajaran yang tematik. Karena banyak guru yang kesulitan melakukan pelajaran yang tematik.(*)

Sumber : Republika.com 

Kurikulum 2013 Menyempurnakan Kurikulum Sebelumnya

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Prof Dr Ir Musliar Kasim, MS dengan tegas menepis anggapan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang baru. Menurutnya, kurikulum yang akan diterapkan mulai tahun ajaran 2013/2014 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Hal ini diungkapkannya dihadapan peserta sosialisasi kurikulum 2013, yang dilaksanakan di Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, Jumat, 8 Februari 2013.

Kurikulum 2013

Banyaknya pihak yang selama ini menganggap bahwa penerapn kurikulum 2013 ini terkesan terburu-buru dan tidak subtansi. Belum lagi anggapan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sepenuhnya belum dikuasai guru-guru,tiba-tiba langsung diubah lagi. Musliar, menjelaskan jika kurikulum baru ini sudah disusun beberapa tahun lalu dengan melihat berbagai kekurangan yang ada pada kurikulum sebelumnya, hanya saja baru diekspos jelang penerapannya. "Implementasi penerapan kurikulum ini hanya akan sistem pendidikan dan pengajaran di kelas, kebanyakan yang memprotes kurikulum 2013 adalah mereka yang belum memahami sepenuhnya, olehnya itu kami mengadakan sosialisasi ke sejumlah daerah, "katanya.

Penerapan kurikulum ini didasarkan pada berbagai tinjauan diantaranya; adanya tantangan masa depan, globalisasi, masalah lingkungan hidup, kompetensi masa depan. " Disamping itu, sejumlah materi yang diujikan di ujian nasional belum pernah diajarkan karena tidak ada di kurikulum, sistem pengajaran juga dianggap kurang baik, " paparnya.

Kurikulum sebelumnya juga dianggap kurang mampu menigkatkan  kemampuan berkomunikasi siswa, kemampuan siswa dalam berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yg bertanggungjawab. " Akibatnya siswa kurang  memiliki minat yang luas dalam kehidupan, tidak memiliki kesiapapn untuk bekerja,tidak memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya, kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, " kata Musliar.

Disamping itu, materi kurikulum saat ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognetif, beban belajar siswa terlalu berat dan kurang bermuatan karakter. Akibatnya timbul berbagai fenomena negatif dikalangan siswa saat ini seperti seringnya terjadi perkelahian pelajar, narkoba yang sudah berkembang pesat dikalangan remaja, plagiarisme dan kecurangan dalam ujian (menyontek). " Atas dasar itu, maka tema Kurikulum 2013 yakni menghasilkan insan Indonesia yg produktif, kreatif, inovatif dan afektiv melalui sikap dan keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi, " ujar mantan Rektor Universitas Andalas

Penjurusan IPA-IPS dihapus
Perubahan signifikan pada kurikulum 2013 ini diantaranya penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, materi mata pelajaran yang diajarkan setiap pekannya bergantung pada tema yang sudah ditetapkan. " Sehingga murid SD cukup hanya membawa dua buku saja, tidak perlu lagi bawa ransel berisi banyak buku, " ucap alumnus Pascasarjana University of The Philippines, Los Banos.

Di tingat SMP, mata pelajaran IPA dan IPS juga dihapuskan, namun bukan berati tidak diajarkan, hanya saja materinya dititipkan di mata pelajaran yang lain.
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) dihapuskan juga. " Bagi guru-guru yang selama ini mengajarkan TIK bisa beralih mengajarkan mata pelajaran lain dan apabila sudah memiliki sertifikat pendidik untuk TIK, kami akan gantikan sertifikatnya sesuai mata pelajaran yang akan diajarkan nantinya, " terangnya.

Di tingkat SMA sendiri penerapan penjurusan juga dihapuskan, jadi tidak ada lagi jursan IPA, IPS maupun Bahasa. Hal ini untuk menghindari kesenjangan yang terjadi dikalangan siswa. " Siswa boleh memilih mata pelajaran yang diinginkan, tidak hanya berdasar pada jurusan yang dipilih seperti sebelumnya, makanya kita hapuskan, " terangnya.

Pada kurikulum 2013 ini proses belajar mengajar dimulai dari pengamatan, menanyakan, mengolah, menalar, menyajikan materi, menyimpulkan materi dan terakhir siswa diharapkan mampu menciptakan pemikiran sendiri terkain materi yang dibahas. Pembelajaran juga tidak hanya berlangsung di ruang kelas saja tetapi bisa di lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar. Para guru juga bukan lagi satu-satunya sumber belajar melainkan para murid atau siswa bisa belajar dari lingkungan ataupun pemanfaatan internet. " Elemen penilaian juga tidak hanya dari hasil tugas atau ujian, tetapi lebih pada penilain berbasis kompetensi, " bebernya

Ekstrakulikuler Pramuka, lanjutnya merupakan ekstrakuliker wajib bagi semua siswa. " Pengwajiban ini, didasarkan bahwa pramuka merupakan sarana pembelajaran pembentukan karakter dan penerapan nilai nilai positif, " tuturnya.

Suber : kompas

28 Mar 2013

Bijak Menghadapi 20 Paket Soal UN 2013

20 paket soal UN
anak anak lagi bingung
20 Paket Soal UN 2013 – Ada beberapa tulisan di blog ini yang memuat tentang pelaksanaan Ujian Nasional 2013. Mulai dari berita peluncuran kisi-kisi dari BSNP, penggunaan 20 paket soal, hingga contoh soal di tahun sebelumnya. Pada dasarnya tidak ada yang istimewa dari tulisan-tulisan tersebut. Semuanya hanya mengabarkan dan memberikan soal untuk dapat digunakan latihan bagi siapa saja yang berkepentingan dalam menghadapi UN.
Hal menarik yang membuat saya menulis tulisan ini adalah komentar pengunjung yang hampir semuanya seragam menolak penggunaan 20 paket soal UN. Umumnya berpikiran bahwa digulirkannya 20 jenis soal untuk pelaksanaan Ujian Nasional 2013 ini akan menyulitkan siswa dalam mengerjakan. Banyak komentar yang menyatakan bahwa mereka pusing menghadapi ujian dan tidak setuju dengan pelaksanaan UN hanya karena penereapan sistem jumlah jenis soal tersebut. Itu mengingat bahwa, di tahun 2012 kemarin, jumlah jenis soal yang dibuat oleh BSNP hanyalah 5 jenis soal saja.
Tidak hanya sekali penulis memberikan balasan komentar-komentar mereka. Penulis mencoba untuk menekankan bahwa 1 paket soal dengan berapa pun jumlah paket soal tidak ada perbedaan. Jumlah paket tidak menambah kesulitan soal yang dihadapi masing-masing siswa. Hanya satu yang membedakan antara 1 paket soal dengan 20 atau berapa pun paket soal, yaitu kecurangan.
Siapa pun pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan Ujian Nasional 2013, kemendikbud, BSNP, sekolah, guru, hingga orang tua, sepatutnya dapat memberikan pemahaman dan cara pandang yang tepat menyikapi diberlakukannya 20 paket soal ini. Bahwa pada dasarnya:
Masing-masing siswa akan menghadapi soal ujiannya sendiri-sendiri. Jadi berapa paket pun tidak berpengaruh, karena masing-masing siswa hanya akan menghadapi 1 jenis soal.
Materi yang perlu dipelajari tidak berkaitan dengan jumlah paket soal. Hal itu karena satu bahasan materi dapat diolah menjadi berapa pun jenis soal. Yang ada adalah beragam variasi soal dengan inti pemahaman pokok bahasan yang sama.
Tingkat kesulitan soal tidak berkaitan dengan jumlah paket soal. Jumlah paket tidak mempengaruhi tingkat kesulitan soal yang diujikan, karena pada dasarnya tingkat kesulitan tesebut lebih didasarkan pada gradasi materi bahasa itu sendiri.
Jadi siapa pun itu, dengan memahami bahwa 20 paket soal UN tidak berarti akan menjadikan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal akan menjawab pertanyaan siswa tentang paket soal. Dan pemikiran yang bijak akan setidaknya mengurangi beban pikiran siswa selama mempersiapkan dan menghadapi UN 2013.
Jika kepala sekolah, guru, dan siswa masih berupaya untuk melakukan kecurangan, jangankan menyambut baik 20 paket soal UN, 1 paket soal pun tidak lah dapat mereka terima.


sumber: http://shiningallspark.web.id

Barcode Di Kertas Jawaban UN 2013

barkode di kertas jawaban
Persoalan kebocoran soal  Ujian Nasional (UN) menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam penyelenggaraan UN selanjutnya. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemdikbud mengeluarkan format baru untuk naskah soal dan lembar jawaban UN 2013.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Khairil Anwar Notodiputro, mengatakan bahwa tahun ini naskah soal dan lembar jawaban UN dibuat menjadi satu kesatuan sehingga pembagiannya tidak dilakukan terpisah seperti pada pelaksanaan UN sebelumnya.

"Tahun ini, antara naskah soal dengan lembar jawaban tidak terpisah seperti biasa. Kalau dipisah malah petaka, karena jawaban anak bisa jadi tidak sesuai antara soal dan lembar jawaban UN," kata Khairil saat Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2013 di Pusat Pengembangan Tenaga Pendidikan di Depok, Selasa (12/2/2013).

Ia juga mengingatkan jika ada lembar jawaban yang rusak dan minta penggantian maka naskah soalnya juga harus diganti begitupula sebaliknya. Dengan demikian, potensi rumor kecurangan pada UN melalui cara memasukkan kode soal secara acak tidak lagi dapat dilakukan.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli, membenarkan format baru ini. Bahkan pada lembar jawaban UN tertera barcode yang mengindikasikan kode naskah soal UN. Nantinya barcode ini akan dipindai oleh alat tertentu saat jawaban UN dikoreksi.

"Jadi tidak perlu lagi siswa memasukkan kode naskah soal karena sudah ada barcode itu," ujar Ramli.

"Jika mau curang dengan menukar lembar jawaban maka saat dikoreksi jawabannya tidak akan sesuai dengan soal karena ada barcode itu," tandasnya.

Selain penggunaan barcode dan penyatuan naskah soal dengan lembar jawaban UN, Kemdikbud juga menyiapkan 20 variasi soal pada UN tahun ini sehingga anak-anak bisa berkonsentrasi pada soalnya masing-masing tanpa perlu melihat pekerjaan temannya.

sumber : kompas.com

Guru Jadi Kunci Berhasilnya Kurikulum Baru



Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Bali Dr Made Alit Mariana, MPd, mengatakan, salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan kurikulum baru yang mulai diterapkan pada Juli mendatang terletak pada kesiapan para guru.

"Para guru harus siap untuk menerapkan dan mengimplementasikan materi sesuai dengan kurikulum tersebut," kata Alit Mariana di Denpasar, Jumat (22/3/2013).

Ia mengatakan, walau tuntutan seperti itu, tetapi pemerintah terkesan lambat melatih para guru untuk mengimplementasikan kurikulum baru itu. Ia mengatakan, pendidikan dan pelatihan (diklat) guru yang awalnya direncanakan pada bulan Maret diundur menjadi April mendatang karena anggaran di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum cair.

Hal tersebut, sambung Alit Mariana, dikhawatirkan berpengaruh terhadap kesiapan guru karena waktu pelatihan sangat singkat dan mepet dengan target pelaksanaan kurikulum baru itu.

"Awalnya pelatihan kepada guru-guru inti memang direncanakan Maret ini harus sudah dilakukan. Namun, karena anggaran di Kemendikbud belum cair, jadi pelatihan itu molor. Namun, kami memastikan pelatihan bisa digelar pertengahan April," katanya.

Menurutnya, anggaran program pendidikan tahun 2013 di Kemendikbud mestinya sudah bisa cair Januari lalu. Namun, ada perubahan anggaran sehingga masih harus melalui pengajuan dan pembahasan di DPR RI.

"Sebenarnya perubahan anggaran itu sudah disetujui di DPR RI dan saat ini sedang proses administrasi di Kementerian Keuangan dan diharapkan April bisa cair," katanya.

Alit Mariana lebih lanjut mengatakan, keterlambatan pencairan anggaran itu sangat berpengaruh terhadap program pemerintah pusat (Kemendikbud) dan karena LPMP merupakan kepanjangan tangan pusat, maka hal itu juga akan berpengaruh terhadap program yang akan dijalankan LPMP. Salah satunya, diklat guru dalam rangka persiapan implementasi kurikulum baru.

Menyinggung molornya pelatihan berpengaruh kepada kesiapan guru, dia mengatakan tidak terlalu berpengaruh. "Memang waktunya sangat singkat dan mempet, tetapi akan kami optimalkan pelatihan itu dan nanti juga akan ada pendampingan secara berkelanjutan, baik di kelas maupun juga melalui portal LPMP," katanya.

Ia mengatakan, untuk menyiasati belum cairnya anggaran, pihaknya bekerja sama dengan Disdikpora provinsi, kabupaten, dan kota untuk menyosialisasikan perubahan kurikulum itu. "Kami berharap kerja sama guru, kepala sekolah, dan pengawas menyiapkan implementasi kurikulum baru itu," katanya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Bali Ketut Mandia menilai tertundanya pelatihan itu akan sangat berpengaruh kepada kesiapan guru dalam mengimplementasikan kurikulum baru. "Ini akan memengaruhi kesiapan guru melaksanakan kurikulum baru dan pada akhirnya impelementasinya tidak optimal," katanya.

Dikatakan, kalau pelatihan mundur dan nantinya berpengaruh terhadap kesiapan guru di daerah yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah, hal itu tanggung jawab pemerintah pusat. "Jangan salahkan kami di daerah, kalau nanti implementasi kurikulum tidak optimal," katanya.


Sumber : kompas.com

Copyright @ 2013 PII Pati. Designed by Templateism | Love for The Globe Press