Kami Anak Anak PII:

Pelajar Islam Indonesia. Berjiwa Kepemimpinan, Berfikir Kritis, Cerdas, Cendikia,Dan Militan

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

4 Mar 2012

Begin With The End In Mind - KONDA XXVIII

Mohammad Fajar memberi sambutan pada
pembukaan KONDA XXVII sebagai Ketua OC
Pati, 3-4 Maret 2012 - Dengan penuh suasana kesederhanaan Konferensi Daerah ke-28 Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Kabupaten Pati dilaksanakan di International Islamic High School of Ittihadul Muwahiddin. Pada Konferensi Daerah kali ini, Steering Committee mengemukakan sebuah tema yaitu "Begin With The End In Mind" yang dimaknai sebagai perjuangan tiada akhir. Sebagaimana kata-kata slogan yang sering digunakan di PII yaitu Never Ending Movement kami sedikit menengok kebelakang bahwa untuk bergerak tanpa akhir maka harus mengetahui bahwa The End is Just in Mind sehingga pada dasarnya meskipun pada Konferensi Daerah ini periode 2011-2012 yang dipimpin oleh saudara Fatchul Wachid Bin Mohammad Shahril Haerun seorang berkebangsaan Malaysia sudah berakhir masa kepengurusannya dan digantikan oleh Ketua Umum terpilih untuk periode 2012-2013 yaitu Mohammad Dika Nurhafid, bukan berarti pergerakan PII telah berakhir tetapi justru adalah awal untuk melakukan suatu pergerakan yang memberikan manfaat bagi umat Islam.

"Sungguh perasaan yang luar biasa karena bisa menghadiri Konda ke-2 kalinya, pada tahun lalu dan tahun ini sebagai Steering Committe. Pesan saya kepada pengurus periode berikutnya adalah tingkatkan ukhuwwah melalui diskusi, koordinasi dan komunikasi antar pengurus, antar eselon dan seterusnya. Serta apa-apa program kerja yang telah dibina, diciptakan dan terlaksana pada periode 2011-2012 kami harapkan dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Kajian-kajian Islam senantiasa dijaga karena apabila personalia mempunyai landasan aqidah yang salaf, inshaAllah pada perjalanannya akan mudah dan diredhai Allah." Kata Ketua Umum Periode 2011-2012 Fatchul Wachid Mohammad Shahril

Konferensi Daerah yang bertepatan dengan 88 tahun runtuhnya Kekhalifahan Turki Uthmaniyyah ini memberikan makna tersendiri buat kami. Bahwa melihat sejarah umat Islam yang begitu gemilang, maka suatu kewajiban bagi setiap individu muslim untuk memperjuangkan umat Islam menuju kearah Izzul Islam Wal Muslimin.

"Perlu diketahui juga bahwa kita patut bersyukur kepada Allah azza wa jalla yang telah memberikan rahmat dan nikmat kepad PD PII Kabupaten Pati karen sudah berhasil melaksanakan Konferda sebab Konferda itu adalah indikator yang menunjukkan adanya mata rantai atau penerusan generasi kepada generasi berikutnya. Karena sangat banyak organisasi baik Pengurus Daerah lain dan organiasi lain yang tidak bisa melakukan Konferda seperti ini, itu menunjukkan bahwa organisasi tersebut gagal dalam melakukan proses kaderisasi." Kata Kanda Didik pada pembukaan Konferensi Daerah ke-28

Dengan ciri khas PD PII Kabupaten Pati yaitu setiap pembukaan dan penutupan acara ditiadakan penyanyian lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Pelajar Islam Indonesia (PII) selalu terlaksana. Laporan pertanggung jawaban yang disampaikan oleh Ketua Umum PD PII Kabupaten Pati saudara Fat pada akhirnya diterima oleh peserta sidang dengan syarat melengkapi lampiran laporan keuangan PD PII Kabupaten Pati periode 2011-2012. Prosedur pemilihan yang tidak menggunakan prosedur suara terbanyak semoga tetap terjaga di PD PII Kabupaten Pati.


Selain pembahasan yang biasanya dibahas dalam Konferensi Daerah, ada hal yang menarik yaitu pengenalan adanya Komisariat PD PII Kabupaten Pati yang bernama Islamic Darussalam Student Association yang diharapkan dapat menyuplai kader-kader pelajar Muslim yang salim aqidahnya, karimah akhlaknya, faqih pandangannya, dan cendekia akalnya. Semoga pada periode 2012-2013 yang dipimpin oleh Mohammad Dika Nurhafid, PD PII Kabupaten Pati dapat lebih baik dan lebih bermanfaat bagi umat Islam.

Salam Hangat,
Fatchul Wachid Bin Mohammad Shahril
Ketua Umum Demisioner PD PII Kabupaten Pati
Periode 2011-2012

14 Okt 2011

Video kekejaman salibis NATO terhadap kaum Muslimin di Sirte, Libya.

Lihatlah, apa yg terjadi pada bocah kecil ini..


Lihat bagaimana NATO & Para Pemberontak melindungi warga sipil di SIRT …. Dunia menikmati menonton video ini …… negara-negara NATO  ………. Apakah Anda akan terus diam Anda tentang intervensi kemanusiaan NATO …. Bangkitlah wahai Ummat Islam, belalah kaum Muslimin di Libya, belalah mereka dari Kediktatoran Rejim Ghadafi, yg membawa libya dalam lubang kehancuran. Dan dari pasukan Salibis NATO, yg seenaknya membantai Ummat Islam di sana, lihatlah anak kecil ini, inna lillahio waa inna ilaihi rojiun… inna lillahio waa inna ilaihi rojiun… inna lillahio waa inna ilaihi rojiun…  Ya Allah, kami tidak bisa berkata-kata lagi, selain menangisi mereka dan kondisi mereka, Ya Allah, maafkanlah kami karena kami hanya bisa berdoa tanpa bisa berbuat apa-apa, Ya Allah, hancurkanlah para penjahat dan salibis, hancurkanlah mereka sehancur-hancurnya.. Amin

Sumber : Arrahmah.com

15 Sep 2011

Mendamai Ambon Manise

Kembali bergolak Ambon Manise. Puluhan nyawa menjadi korban dan ratusan rumah terbakar. Sebenarnya ada keganjilan-keganjilan dalam peristiwa bentrokan ini, karena bersamaan dengan tragedi 11 September dan dalam kondisi politik negeri yang entah kemana arahnya.

Masyarakat Ambon mayoritas beragama Islam dan Kristen. Dan jumlah pemeluk agama Islam lebih sedikit ketimbang agama Kristen, umat Islam di sana pada umumnya lihai dalam perdagangan dan ekonomi. Sedangkan umat Kristen sebagian besar memilih menjadi Tentara dan pegawai negeri.

Di daerah Maluku terutama Ambon memang terkenal sebagai daerah konflik, terutama disebabkan oleh gerakan RMS (Republik Malaku Selatan). Peristiwa bentrokan kemarin sebenarnya hampir sama dengan peristiwa tahun 1999. Kejadian itu terjadi pada tahun 2000 dan terindikasi bahwa oknum RMS pun terlibat.

Bukan hal yang aneh jika peristiwa ini diliputi oleh kepentingan asing, terutama dalam kaitanya dengan war on terrorist yang dikomandoi oleh AS. ”Ada upaya untuk mensetting dari moment 11 September” demikian menurut ketua presidium Mer C, Joserizal Jurnalis, SpOT, sebagaimana dikutip voa-islam.com (12/09).

Selama ini belum ada penyelesaian tuntas dari pemerintah dalam masalah tersebut, bahkan terbilang cenderung menutup-nutupi. Sebagai contoh: Gus Dur, yang waktu itu menjabat sebagai presiden RI terlalu hemat ketika menyebut korban dari kerusuhan tersebut yang menyatakan korban hanyalah lima orang.

Padahal menurut laporan KONTRAS saja, jumlah korban sejak pecahnya pertikaian di Poka pada tanggal 15 Juli hingga 5 Agustus 1999, tercatat 1.349 orang korban meninggal, ratusan lainnya luka-luka, dan 4 orang hilang. Dalang-dalang utamanya sampai saat ini pun belum terungkap. Bagaimanapun, gerak lamban sang pemangku kebijakan hanyalah akan membuat polemik ini semakin membesar.

Realitas juga mengatakan, meski Indonesia adalah mayoritas Muslim, seringkali pemerintah terlalu peka jika itu pihak non muslim yang menjadi obyek, namun sebaliknya serasa memberlakukan tidak adil apabila umat Islam yang menjadi pesakitan.

Publik menunggu tindakan tegas dan berkeadilan dari pemerintah dalam hal ini. Sebab perdamaian tanpa adanya keadilan hanyalah pepesan kosong belaka. Kerusuhan ini merupakan efek domino dari kerusuhan-kerusuhan sebelumnya, sehingga harus diusut tuntas siapa yang bermain.

Mengherankan tentunya jika sampai inteligen negara tidak mengetahui situasi pra kejadian. Pertanyaanya, apakah sebelumnya bentrokan ini tidak bisa dicegah? Yang jelan bentrokan ini harus ditindaki dengan benar dan serius.

Pertikaian antar agama ini juga menunjukkan ketidakmampuan sistem sekular kapitalisme, demokrasi dan sistem-sistem buatan manusia lainnya dalam menjaga persatuan dan kesatuan umat. Sistem khilafah sudah terbukti mampu menjaga heteroginitas sebuah masyarakat. Maka sudah saatnya kita beralih pada sistem khilafah.

Salah satu buktinya, ketika Rasulullah Saw dan para sahabat hijrah ke Madinah, daerah itu penduduknya bukan hanya memeluk agama Islam, tapi juga Kristen, Yahudi, bahkan juga masih tinggal orang-orang musyrik. Akan tetapi, Muhammad Saw sang kepala negara sukses mengatur dan menyejahterakan rakyatnya dengan menggunakan sistem Islam. Oleh karena itu, hanya sistem Islam yang dapat mengatur kemajemukan dengan baik. Dengan sistem Islam, Ambon manise pun niscaya bisa mendamai. Wallahu a’lam

Ibnu Abdullah Fatih
e-mail : fatchul.wachid@yahoo.com.my
sumber : Voa-islam.com; Eramuslim; Republika; Suara Hidayatullah; Arrahmah.com

Copyright @ 2013 PII Pati. Designed by Templateism | Love for The Globe Press